Assalamualaikum wr.wb
Yang terhormat Bapak Drs. Kelik Sumrahadi, S.Sos. atau yang mewakili, yang saya hormati pula panitia ORASI BUDAYA DAN GELAR PUISI KEBANGKITAN NUSANTARA, serta seluruh tamu undangan yang berbahagia.
Puji syukur kehadirat TUHAN Yang Maha Esa karena dalam suasana yang sangat bergelora ini, kita dapat berkumpul di Ruang Ripta Loka ini dalam keadaan sehat walafiat.
Terima kasih yang setulus-tulusnya saya sampaikan karena saya diberi kesempatan untuk berdiri disini menyampaikan orasi dengan tema menggugah kembali semangat kebangsaan.
100 tahun sudah negeri kita bangun dari sebuah keterpurukan yang disebabkan penjajahan. Sebuah Kebangkitan yang dirintis oleh organisasi Budi Utomo yang berdiri tanggal 20 Mei 1908, yang dirangkai dengan Sumpah Pemuda, yang akhirnya membuahkan hasil sebuah kado yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia, sebuah kemerdekaan. Kemrdekaan, begitu indah dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya di kala itu. Dan 100 tahun bukan merupakan waktu yang sedikit bagi sebuah pengharapan untuk semakin maju.
Kini, apa yang terjadi? Bangunlah dan tengoklah ke depan. Apa yang telah kita berikan kepada bangsa ini. Sebuah pengabdiankah? Sebuah kesetiaankah? Jika benar begitu, mengapa bangsa ini masih saja terluka, mengapa bangsa ini masih saja merintih, dan mengapa masih terdengar tangisan dari bangsa tercinta ini? Berkacalah pada diri kita msaing-masing, sadarilah apa yang kita persembahkan pada negeri ini. Selama ini yang selalu kita pikirkan dalam benak kita adalah apa yang dapat kita perbuat dengan bangsa ini. Namun, salah! Seharusnya yang kita pikirkan adalah apa yang dapat kita perbuat untuk bangsa ini!
Sebagai seorang pelajar pada khususnya, kita merupakan pondasi bagi bangsa ini, jika kita mampu terbangun kuat dan tangguh, maka bangsa ini pun akan mampu berdiri tegak. Dan kita pelajar-pelajar di negeri ini, merupakan jaminan bagi kesaksian sebuah bangsa yang ingin maju. Sekelompok prajurit yang dibariskan untuk pencapaian sebuah cita-cita luhur bangsa ini yaitu sebuah cita-cita untuk menjadi bangsa yang mampu bercengkerama di barisan negara-negara maju, mampu bersaing di kancah pergulatan bangsa maju. Jadi, generasi muda bukan merupakan ajang untuk menghambur-hamburkan sebuah kebebasan yang tak terkontrol, bukan juga ajang untuk mempermainkan sebuah martabat bangsa. Namun, kini saatnya kita untuk mencari sebuah jati diri untuk mempersiapkan sebuah negara yang tegas, kuat, dan tangguh.
Dan sekarang, mulailah untuk bergerak bagi bangsa ini, menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran dan semangat juang kita sebagai warga negara Indonesia untuk memperkokoh pondasi nilai-nilai budaya bangsa, memperkuat kepribadian bangsa agar martabat kita tidak lagi diperbudak oleh bangsa lain, menaikkan harga diri bangsa kita dimata bangsa lain agar tak lagi pernah bangsa kita dipandang sebelah mata.
Bangkit adalah bukan saatnya mengumbar kebebasan yang dicampuradukkan dengan kekerasan, namun bangkit adalah saatnya kita untuk menebar rasa saling menghargai antarsesama. Bangkit adalah bukan saatnya berdiam diri untuk menunggu sebuah ketidakpastian, tapi bangkit adalah saatnya kita melihat ke depan untuk sebuah tindakan nyata bagi bangsa ini.
Demikian orasi yang dapat saya sampaikan, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, dan sekali lagi mari kita tumbuhkan dalam benak kita semangat dan keinginan untuk menggeliat dari tidur panjang kita, kembali bersiap menyongsong mempersiapkan diri sebagai barisan generasi muda berjiwa merah putih untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang megah kembali.
Wassalamualaikum wr.wb.
Rifani Lutfia K.
SMA Negeri 1 Purworejo